Senin, 16 Maret 2009

Perang..

Inilah hal yang akhir-akhir ini menjadi perguncingan dunia..

Perang dapat diartikan sebagai berselisih paham di antara 2 kubu yang diakibatkan suatu konflik . salah satu bentuk konflik yang sudah menjadi sesuatu yang harus diwaspadai adalah konflik yang mengakibatkan kontak fisik yang dapat menimbulkan korban jiwa.


Salah satu contoh perang yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun dan sangat kronis kondisinya adalah perang antara Palestina dan Israel. Perang yang akhir –akhir ini mulai mebawa wabah yang kurang baik, karena membawa SARA sebagai pemicunya. Ini patut diperhatikan oleh pemerintah secara serius, karena dampaknya sudah mulai terlihat di Indonesia. Banyak masyarakat Indonesiayang mulai ikut campur Urusan perang negara tersebut,bahkan tidak bisa dibilang sedikit masyarakat Indonesia yang mau menjadi relawan disana.


APAKAH INI BISA DIBILANG MENCARI MATI SENDIRI?????

Mungkin bagi mereka yang berniat menjadi relawan paling tidak mereka sudah Ikhlas jika hidup dan mati mereka dipertarukan.

Perang tanding antara Israel dan Palestina sampai hari ini terus berlangsung meskipun ada kesepakatan 'break' tiga jam. Siapa yang menjadi korban? Baik Islam maupun Kristen Palestina, semua menjadi korban Israel. Tapi mengapa yang proaktif mengecam Israel hanya masyarakat Muslim?


Sebenarnya apa penyebab utama perang kedua negara ini bisa terjadi?????


Ada sebuah arikel dari Leonard C.Epafras yang mengutip pepatah Hindustan: "Bumi tertawa ketika seseorang mengklaim sebuah tempat sebagai miliknya."



Dalam artikel yang panjang lebar itu, Epafras antara lain menulis, bagi sebagian orang Kristen (terutama penganut mileniarisme atau kerajaan seribu tahun), peristiwa ini (sengketa/konflik/perang antara Israel-Palestina) bisa dianggap sebagai tanda bahwa kedatangan Yesus kedua kalinya sudah semakin dekat.

Kedatangan itu diawali dengan pertempuran bangsa-bangsa di Yerusalem (Armagedon) dan didirikannya kembali Bait Allah Israel (soal detil perwujudannya, ada banyak pendapat di kalangan Kristen). Jadi konflik yang terjadi sekarang, tulis Epafras, diterima sebagai keniscayaan belaka dalam pemenuhan nubuat Alkitab.

Skenario yang hampir serupa juga dimiliki beberapa kelompok Yahudi Ortodoks dan Ultra Ortodoks yang bersikeras untuk segera mendirikan Bait Allah demi menyongsong kedatangan Mesias versi Israel.

Tidak lama sesudah berakhirnya Perang Enam Hari 1967 yang memungkinkan Israel menguasai Yerusalem Timur, Shlomo Goren, seorang perwira Jenderal Moshe Dayan, merasa 'mendengar' tapak kedatangan Mesias. Wangsit ini membawanya pada tanggal 16 Agustus 1967, pada hari Tisha B'Av (hari keagamaan dalam memperingati runtuhnya dua Bait Allah Israel oleh orang Babel dan Romawi), menerobos masuk Haram al-Sharif bersama pengikutnya, melakukan doa dan upacara keagamaan serta bermaksud mendirikan sebuah sinagoge di antara tempat suci Islam (Dome of the Rock dan Mesjid Al-Aqsa).

Menghadapi dua skenario di atas, kaum Muslim Arab pun dengan semangat keagamaan yang sama kuatnya berusaha melindungi kepentingan Islam di seluruh Palestina, Yerusalem Timur, kota tua Yerusalem dan yang terpenting dari semuanya itu, Haram al-Sharif.

Skenario pemecahan persoalan dari sudut agama bagi mereka adalah dengan menjadikan Yerusalem (Timur) seluruhnya sebagai kota Muslim dengan mengevakuasi orang Yahudi dan Kristen (Yerusalem tua sejak dulu telah dibagi menjadi empat 'kampung', yaitu kampung Kristen, kampung Muslim, termasuk Haram al-Sharif, kampung Armenia yang juga Kristen, dan kampung Yahudi).


Hal yang lebih celaka dan memperuwet situasi, menurut Epafras, adalah seluruh isu di atas juga menyerap energi sekalian bangsa di dunia, termasuk Indonesia. Indonesia yang berada 9.000 km dari Israel pun ikut tersedot dalam pertikaian ini melalui demonstrasi-demonstrasi anti-Israel.

Nah, itulah persoalannya, mengapa yang gencar berdemonstrasi hanya masyarakat Indonesia yang mengibarkan 'bendera' Islam, padahal umat Kristen -- terutama warga Kristen Palestina -- juga dirugikan.

Dari segi agama, dalam artikel di Kompas, kebanyakan korban memang warga Muslim, tetapi tidak sedikit warga Kristen yang juga menjadi korban. Sebagaimana kita tahu, banyak orang Palestina memeluk agama Kristen, dan mereka sama-sama menjadi korban kekejaman mesin perang Israel yang dimaksudkan untuk menghancurkan kelompok Hamas.

APAKAH KEADAAN INI HARUS TERUS BERLANGSUNG?????

DENGAN MENGORBANKAN BANYAK WARGA SIPIL????

YANG HARUS DIINGAT ADALAH TUHAN TIDAK PERNAH MENGHARAPKAN ADANYA PEPERANGAN, KARENA PADA DASARNYA MANUSIA BERASAL DARI SATU KETURUNAH ADAM DAN HAWA....!!!!